1.
Konsep Dasar Asma
a.
Pengertian
Asma adalah penyakit paru dengan ciri khas yakni
saluran nafas sangat mudah bereaksi terhadap berbagai rangsangan atau pencetus
dengan manifestasi berupa serangan asma
(Ngastiyah, 2005).
Asma adalah penyakit yang menyebabkan otot-otot di
sekitar saluran bronchial (saluran udara) dalam paru-paru mengkerut, sekaligus
lapisan saluran bronchial mengalami peradangan dan bengkak (Espeland, 2008).
Asma adalah suatu peradangan pada bronkus akibat
reaksi hipersensitif mukosa bronkus terhadap bahan alergen (Riyadi, 2009).
b.
Anatomi dan fisiologi pernafasan
1)
Anatomi saluran nafas
Gambar 1

Organ-organ pernafasan
a)
Hidung
Merupakan saluran udara
pertama yang mempunyai 2 lubang, dipisahkan oleh sekat hidung. Di dalamnya
terdapat bulu-bulu yang berfungsi untuk menyaring dan menghangatkan udara
(Hidayat, 2006).
b)
Tekak (faring)
Merupakan persimpangan antara
jalan nafas dan jalan makanan, terdapat di dasar tengkorak, di belakang rongga
hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Terdapat epiglotis yang
berfungsi menutup laring pada waktu menelan makanan.
c)
Laring (pangkal tenggorok)
Merupakan saluran udara dan
bertindak sebagai pembentukan suara terletak di depan bagian faring sampai
ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakea di bawahnya.
d)
Trakea (batang tenggorok)
Merupakan lanjutan dari laring
yang dibentuk oleh 16-20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang
berbentuk seperti kuku kuda (huruf C). Sebelah dalam diliputi oleh sel bersilia
yang berfungsi untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama
dengan udara pernafasan. Percabangan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan
disebut karina.
e)
Bronkus (cabang tenggorokan)
Merupakan lanjutan dari trakea
yang terdiri dari 2 buah pada ketinggian vertebra torakalis IV dan V.
f)
Paru-paru
Merupakan sebuah alat tubuh
yang sebagian besar terdiri dari gelembung-gelembung hawa (alveoli). Alveoli
ini terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Jika dibentangkan luas
permukaannya ± 90 meter persegi, pada
lapisan inilah terjadi pertukaran udara.
Pernafasan (respirasi) adalah
peristiwa menghirup udara yang mengandung oksigen dan menghembuskan udara yang
banyak mengandung CO2 sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh.
Adapun guna dari pernafasan yaitu mengambil O2 yang dibawa oleh
darah ke seluruh tubuh untuk pembakaran, mengeluarkan CO2 sebagai
sisa dari pembakaran yang dibawa oleh darah ke paru-paru untuk dibuang,
menghangatkan dan melembabkan udara. Pada dasarnya sistem pernafasan terdiri
dari suatu rangkaian saluran udara yang menghangatkan udara luar agar
bersentuhan dengan membran kapiler alveoli. Terdapat beberapa mekanisme yang
berperan memasukkan udara ke dalam paru-paru sehingga pertukaran gas dapat
berlangsung. Fungsi mekanis pergerakan udara masuk dan keluar dari paru-paru
disebut sebagai ventilasi atau bernapas. Kemudian adanya pemindahan O2
dan CO2 yang melintasi membran alveolus-kapiler yang disebut dengan
difusi sedangkan pemindahan oksigen dan karbondioksida antara kapiler-kapiler dan
sel-sel tubuh yang disebut dengan perfusi atau pernapasan internal.
Proses pernafasan :
Proses
bernafas terdiri dari menarik dan mengeluarkan nafas. Satu kali bernafas adalah
satu kali inspirasi dan satu kali ekspirasi. Bernafas diatur oleh otot-otot pernafasan
yang terletak pada sumsum penyambung (medulla oblongata). Inspirasi terjadi
bila muskulus diafragma telah dapat rangsangan dari nervus prenikus lalu
mengkerut datar. Ekspirasi terjadi pada saat otot-otot mengendor dan rongga
dada mengecil. Proses pernafasan ini terjadi karena adanya perbedaan tekanan
antara rongga pleura dan paru-paru.
Proses
fisiologis pernafasan dimana oksigen dipindahkan dari udara ke dalam
jaringan-jaringan dan karbondioksida dikeluarkan ke udara ekspirasi dapat
dibagi menjadi tiga stadium. Stadium pertama adalah ventilasi, yaitu masuknya
campuran gas-gas ke dalam dan ke luar paru-paru. Stadium kedua adalah
transportasi yang terdiri dari beberapa aspek yaitu difusi gas-gas antara
alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksterna) dan antara darah sistemik
dengan sel-sel jaringan, distribusi darah dalam sirkulasi pulmonar dan
penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus-alveolus dan reaksi
kimia, fisik dari oksigen dan karbondioksida dengan darah. Stadium akhir yaitu respirasi
sel dimana metabolit dioksida untuk mendapatkan energi dan karbon dioksida yang
terbentuk sebagai sampah proses metabolisme sel akan dikeluarkan oleh paru-paru
(Price, 2005).
c.
Patofisiologi
1)
Etiologi
Adapun faktor penyebab dari
asma adalah faktor infeksi dan faktor
non infeksi. Faktor infeksi misalnya virus, jamur, parasit, dan bakteri
sedangkan faktor non infeksi seperti alergi, iritan, cuaca, kegiatan jasmani
dan psikis (Mansjoer, 2000).
2)
Proses terjadi
Faktor-faktor penyebab seperti
virus, bakteri, jamur, parasit, alergi, iritan, cuaca, kegiatan jasmani dan
psikis akan merangsang reaksi hiperreaktivitas bronkus dalam saluran pernafasan
sehingga merangsang sel plasma menghasilkan imonoglubulin E (IgE). IgE
selanjutnya akan menempel pada reseptor dinding sel mast yang disebut sel mast
tersensitisasi. Sel mast tersensitisasi akan mengalami degranulasi, sel mast
yang mengalami degranulasi akan mengeluarkan sejumlah mediator seperti histamin
dan bradikinin. Mediator ini menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler
sehingga timbul edema mukosa, peningkatan produksi mukus dan kontraksi otot polos bronkiolus. Hal ini
akan menyebabkan proliferasi akibatnya terjadi sumbatan dan daya konsulidasi
pada jalan nafas sehingga proses pertukaran O2 dan CO2
terhambat akibatnya terjadi gangguan ventilasi. Rendahnya masukan O2
ke paru-paru terutama pada alveolus menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan
CO2 dalam alveolus atau yang disebut dengan hiperventilasi, yang
akan menyebabkan terjadi alkalosis respiratorik dan penurunan CO2
dalam kapiler (hipoventilasi) yang akan menyebabkan terjadi asidosis
respiratorik. Hal ini dapat menyebabkan paru-paru tidak dapat memenuhi fungsi
primernya dalam pertukaran gas yaitu membuang karbondioksida sehingga
menyebabkan konsentrasi O2 dalam alveolus menurun dan terjadilah
gangguan difusi, dan akan berlanjut menjadi gangguan perfusi dimana
oksigenisasi ke jaringan tidak memadai sehingga akan terjadi hipoksemia dan
hipoksia yang akan menimbulkan berbagai manifestasi klinis.
3)
Manifestasi klinis
Adapun manifestasi klinis yang
ditimbulkan antara lain mengi/wheezing, sesak nafas, dada terasa tertekan atau
sesak, batuk, pilek, nyeri dada, nadi meningkat, retraksi otot dada, nafas
cuping hidung, takipnea, kelelahan, lemah, anoreksia, sianosis dan gelisah.
4)
Komplikasi
Adapun komplikasi yang timbul
yaitu bronkitis berat, emfisema, atelektasis, pneumotorak dan bronkopneumonia.
d.
Pemeriksaan Diagnostik
1)
Pemeriksaan Radiologi
a)
Foto thorak
Pada foto thorak akan tampak
corakan paru yang meningkat, hiperinflasi terdapat pada serangan akut dan pada
asma kronik, atelektasis juga ditemukan pada anak-anak ³
6 tahun.
b)
Foto sinus paranasalis
Diperlukan jika asma sulit terkontrol untuk melihat adanya
sinusitis.
2)
Pemeriksaan darah
Hasilnya akan terdapat
eosinofilia pada darah tepi dan sekret hidung, bila tidak eosinofilia
kemungkinan bukan asma .
3)
Uji faal paru
Dilakukan untuk menentukan
derajat obstruksi, menilai hasil provokasi bronkus, menilai hasil pengobatan
dan mengikuti perjalanan penyakit. Alat yang digunakan untuk uji faal paru
adalah peak flow meter, caranya anak disuruh meniup flow meter beberapa kali
(sebelumnya menarik nafas dalam melalui mulut kemudian menghebuskan dengan
kuat).
4)
Uji kulit alergi dan imunologi
Pemeriksaan ini dilakukan
dengan cara goresan atau tusuk. Alergen yang digunakan adalah alergen yang
banyak didapat di daerahnya.
e.
Penatalaksanaan medis
1)
Oksigen 4 - 6 liter / menit
2)
Pemeriksaan analisa gas darah mungkin
memperlihatkan penurunan konsentrasi oksigen.
3)
Anti inflamasi (Kortikosteroid)
diberikan untuk menghambat inflamasi jalan nafas.
4)
Antibiotik diberikan berdasarkan
etiologi dan uji resistensi
5)
Pemberian obat ekspektoran untuk
pengenceran dahak yang kental
6)
Bronkodilator untuk menurunkan spasme
bronkus/melebarkan bronkus
7)
Pemeriksaan foto torak
8)
Pantau tanda-tanda vital secara
teratur agar bila terjadi kegagalan pernafasan dapat segera tertolong.
2.
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
a.
Pengkajian Keperawatan
Pengkajian adalah tahap awal
dari proses keperawatan (Gaffar, 1999). Pada tahap ini akan dilaksanakan
pengumpulan, pengelompokan dan
penganalisaan data. Pada pengumpulan data akan diperoleh data subyektif yaitu
data yang diperoleh dari keterangan pasien atau orang tua pasien. Data obyektif
diperoleh dari pemeriksaan fisik. Dari data subyektif pada pasien asma biasanya diperoleh data anak dikeluhkan sesak
nafas, batuk, pilek, nafsu makan menurun, lemah, kelelahan dan gelisah. Dari
data obyektif diperoleh data mengi/wheezing berulang, ronchi, dada terasa
tertekan atau sesak, pernapasan cepat (takipnea), sianosis, nafas cuping hidung
dan retraksi otot dada
1)
Diagnosa keperawatan :
Diagnosa keperawatan adalah
penilaian klinis tentang respon aktual/potensial terhadap masalah
kesehatan/proses kehidupan. Dari pengkajian yang dilakukan maka didapatkan
diagnosa keperawatan yang muncul seperti : (Carpenito, 2000 & Doenges,
1999)
a)
Bersihan jalan nafas tak efektif
berhubungan dengan peningkatan produksi sputum/sekret.
b)
Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap
anoreksia akibat rasa dan bau sputum
c)
Kerusakan pertukaran gas berubungan
dengan perubahan membran alveolar kapiler
d)
Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplay dan kebutuhan oksigen.
e)
Nyeri akut berhubungan dengan
inflamasi parenkim paru, batuk menetap
f)
Ansietas orang tua berhubungan dengan
perubahan status kesehatan, kurangnya informasi.
b.
Perencanaan keperawatan
Perencanaan merupakan
preskripsi untuk perilaku spesifik yang diharapkan dari pasien dan/atau tindakan
yang harus dilakukan oleh perawat (Doenges, 1999).
Perencanaan diawali dengan
memprioritaskan diagnosa keperawatan berdasarkan berat ringannya masalah yang
ditemukan pada pasien (Zainal, 1999). Rencana keperawatan yang dapat disusun
untuk pasien asma yaitu: (Doenges,
1999).
1)
Bersihan jalan napas tak efektif
berhubungan dengan inflamasi trakeabronkial
Tujuan : bersihan jalan nafas
efektif
Rencana tindakan :
a)
Ukur vital sign setiap 6 jam
Rasional
: Mengetahui perkembangan pasien
b)
Observasi keadaan umum pasien
Rasional
: Mengetahui efektivitas perawatan dan
perkembangan pasien.
c)
Kaji frekuensi/ kedalaman pernafasan
dan gerakan dada
Rasional
: Takipnea, pernafasan dangkal dan
gerakan dada tidak simetris, sering terjadi karena ketidaknyamanan gerakan dada
dan/atau cairan paru.
d)
Auskultasi area paru, bunyi nafas,
misal krekel, mengi dan ronchi
Rasional:
Bunyi nafas bronkial (normal pada
bronkus) dapat juga terjadi pada area konsolidasi, krekel, mengi dan ronchi
terdengar pada inspirasi atau ekspirasi pada respon bertahap pengumpulan
cairan, sekret kental dan spasme jalan nafas/obstruksi.
e)
Ajarkan pasien latihan nafas dalam dan
batuk efektif
Rasional
: Nafas dalam memudahkan ekspansi
maksimum paru-paru atau jalan nafas lebih kecil. Batuk adalah mekanisme pembersihan
jalan nafas alami, membantu silia untuk mempertahankan jalan nafas pasien.
f)
Anjurkan banyak minum air hangat
Rasional
: Air hangat dapat memobilisasi dan
mengeluarkan sekret.
g)
Beri posisi yang nyaman (semi
fowler/fowler)
Rasional
: Memungkinkan upaya napas lebih dalam
dan lebih kuat serta menurunkan
ketidaknyamanan dada.
h)
Delegatif dalam pemberian
bronkodilator, kortikosteroid, ekspktoran dan antibiotik
Rasional
: Bronkodilator untuk menurunkan spasme
bronkus/melebarkan bronkus dengan memobilisasi sekret. Kortikosteroid yaitu
anti inflamasi mencegah reaksi alergi, menghambat pengeluaran histamine.
Ekspektoran memudahkan pengenceran dahak, Antibiotik diindikasikan untuk
mengontrol infeksi pernafasan.
2)
Kerusakan pertukaran gas berhubungan
dengan perubahan membran alveolar kapiler
Tujuan : Ventilasi dan
pertukaran gas efektif.
Rencana tindakan :
a)
Observasi keadaan umum dan vital sign
setiap 6 jam
Rasonal
: Penurunan keadaan umum dan perubahan
vital sign merupakan indikasi derajat keparahan dan status kesehatan pasien.
b)
Observasi warna kulit, membran mukosa
dan kuku
Rasional
: Sianosis menunjukkan vasokonstriksi,
hipoksemia sistemik.
c)
Pertahankan istirahat tidur
Rasional
: Mencegah terlalu lelah dan menurunkan
kebutuhan/konsumsi oksigen untuk memudahkan perbaikan infeksi.
d)
Tinggikan kepala dan sering mengubah
posisi
Rasional
: Meningkatkan inspirasi maksimal,
meningkatkan pengeluaran sekret untuk memperbaiki ventilasi
e)
Berikan terapi oksigen sesuai indikasi
Rasional
: Mempertahankan PaO2
3)
Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan suplay dan kebutuhan O2
Tujuan : Aktivitas dapat
ditingkatkan
Rencana tindakan :
a)
Kaji tingkat kemampuan pasien dalam
aktivitas
Rasional
: Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien
dan memudahkan pilihan intervensi.
b)
Jelaskan pentingnya istirahat dan
keseimbangan aktivitas dan istirahat
Rasional
: Menurunkan kebutuhan metabolik,
menghemat energi untuk penyembuhan
c)
Bantu pasien dalam memenuhi
kebutuhannya
Rasional
: Meminimalkan kelelahan dan membantu
keseimbangan suplay dan kebutuhan oksigen.
d)
Bantu pasien dalam memilih posisi yang
nyaman untuk istirahat
Rasional:
Pasien mungkin nyaman dengan kepala
tinggi, tidur di kursi, atau menunduk ke depan meja atau bantal
e)
Libatkan keluarga dalam pemenuhan
kebutuhan pasien
Rasional
: Keluarga mampu melakukan perawatan
secara mandiri
4)
Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan produksi sputum
Tujuan : pemenuhan nutrisi
adekuat
a) Timbang
berat badan setiap hari
Rasional : Memberikan informasi
tentang kebutuhan diet
b) Beri
penjelasan tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh
Rasional
: Meningkatkan pematangan kebutuhan individu dan pentingnya nutrisi pada proses
pertumbuhan
c) Anjurkan
memberikan makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional
: Meningkatkan nafsu makan, dengan porsi kecil tidak akan cepat bosan
d) Ciptakan
lingkungan yang nyaman dan tenang (batasi pengunjung)
Rasional
: Lingkungan yang tenang dan nyaman dapat menurunkan stress dan lebih kondusif
untuk makan
e) Anjurkan
menghidangkan makan dalam keadaan hangat
Rasional
: Dengan makanan yang masih hangat dapat merangsang makan dan meningkatkan
nafsu makan
5)
Nyeri (akut) berhubungan dengan
inflamasi parenkim paru, batuk menetap.
Tujuan : Nyeri,
berkurang/terkontrol.
Rencana tindakan:
a)
Kaji karakteristik nyeri
Rasional
: Nyeri dada biasanya ada dalam beberapa
serangan asma .
b)
Observasi vital sign setiap 6 jam
Rasional
: Perubahan frekuensi jantung atau
tekanan darah menunjukkan bahwa mengalami nyeri. Khususnya bila alasan lain
untuk perubahan tanda vital telah terlihat.
c)
Berikan tindakan nyaman seperti
relaksasi dan distraksi
Rasional
: Menghilangkan ketidaknyamanan dan
memperbesar efek terapi analgetik
d)
Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional:
Meningkatkan kenyamanan/istirahat umum
6)
Ansietas orang tua berhubungan dengan
perubahan status kesehatan, kurangnya informasi
Tujuan:
Kecemasan orang tua berkurang/hilang,
pengetahuan orang tua bertambah, orang tua memahami kondisi pasien.
Rencana tujuan :
a)
Kaji tingkat pengetahuan orang tua dan
kecemasan orang tua
Rasional
: Untuk mengetahui sejauh mana
pengetahuan yang dimiliki orang tua dan kebenaran informasi yang didapat
b)
Beri penjelasan pada orang tua tentang
keadaan, pengertian, penyebab, tanda gejala, pencegahan dan perawatan pasien.
Rasional
: Memberi informasi untuk menambah
pengetahuan orang tua.
c)
Jelaskan setiap tindakan keperawatan
yang dilakukan
Rasional
: Agar orang tua mengetahui setiap
tindakan yang diberikan.
d)
Libatkan orang tua dalam perawatan
pasien
Rasional
: Orang tua lebih kooperatif dalam perawatan.
e)
Beri kesempatan pada orang tua untuk
bertanya tentang hal-hal yang belum diketahui
Rasional
: Orang tua bisa memperoleh informasi
yang lebih jelas.
f)
Anjurkan orang tua untuk selalu berdoa
Rasional
: Membantu orang tua agar lebih tenang
g)
Lakukan evaluasi
Rasoional:
Mengetahui apakah orang tua sudah
benar-benar mengerti dengan penjelasan yang diberikan
c.
Pelaksanaan keperawatan
Pelaksanaan adalah pngelolaan,
perwujudan dari rencana perawatan yang telah disusun pada tahap kedua untuk
memenuhi kebutuhan pasien secara optimal dan komprehensif. Tindakan keperawatan
yang dilaksanakan disesuaikan dengan perencanaan (Nursalam, 2001).
d.
Evaluasi keperawatan
Evaluasi adalah proses yang
berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada pasien. Evaluasi
yang diharapkan sesuai dengan rencana tujuan yaitu :
1)
Bersihan jalan nafas efektif
2)
Ventilasi dan pertukaran gas efektif
3)
Aktivitas dapat ditingkatkan
4)
Pemenuhan nutrisi adekuat
5)
Nyeri berkurang/terkontrol
6)
Kecemasan orang tua berkurang/hilang,
pengetauan orang tua bertambah, keluarga memahami kondisi pasien.
BAGAN 1
Web of Caution (WOC) Asma
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. (2009). Asma Bisa Sembuh atau Problem Seumur Hidup. Diperoleh
tanggal 29 Juni 2009, dari http://www.medicastore.com/asma/
Carpenito, L.J. (2000). Diagnosa
keperawatan. (Edisi 6). Jakarta: EGC
Doenges, M.E.(1999). Rencana
Asuhan Keperawatan. (Edisi 3).
Jakarta: EGC
Espeland, N. (2008). Petunjuk
Lengkap Mengatasi Alergi dan Asma pada Anak. Jakarta: Prestasi Pustakaraya
Gaffar, L.O.J. (1999). Pengantar
Keperawatan Profesional, Jakarta: EGC
Hidayat, A.A.A.(2006). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak.
Surabaya: Salemba Medika
Mansjoer, A. (2000). Kapita
Selekta Kedokteran. (Edisi 3), Jilid 1. Jakarta: Media Aesculapius
Ngastiyah. (2005). Perawatan Anak Sakit. (Edisi
2). Jakarta: EGC
Nursalam. (2001). Proses
dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: EGC
Price, S.A & Wilson, L.M. (2005). Patofisiologi. (Edisi 6). Jakarta: EGC
Riyadi, S. (2009). Asuhan Keperawatan pada Anak.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Zainal, A.H. (1999). Pengantar
Keperawatan Profesional. Jakarta: Yayasan Bunga Raflesia

0 komentar:
Posting Komentar