Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Proses Eliminasi Sisa Pencernaan

A.    Pengertian Eliminasi
Menurut kamus bahasa Indonesia, eliminasi adalah pengeluaran, penghilangan,penyingkiran, penyisihan.Dalam bidang kesehatan, Eliminasi adalah proses pembuangansisa metabolisme tubuh baik berupa urin atau bowel (feses).Eliminasi pada manusiadigolongkan menjadi 2 macam, yaitu:
1.      Defekasi
Buang air besar atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidupuntuk membuang kotoran atau tinja yang padat atau setengah-padat yang berasaldari sistem pencernaan (Dianawuri, 2009).
2.      Miksi
Miksi adalah proses pengosongan kandung kemih bila kandung kemih terisi. Miksi ini sering disebut buang air kecil.
B.     Fisiologi Dalam Eliminasi
1)      Fisiologi Defekasi
Rektum biasanya kosong sampai menjelang defekasi. Seorang yang mempunyaikebiasaan teratur akan merasa kebutuhan membung air besar kira-kira pada waktuyang sama setiap hari. Hal ini disebabkan oleh refleks gastro-kolika yang biasanyabekerja sesudah makan pagi. Setelah makanan ini mencapai lambung dan setelahpencernaan dimulai maka peristaltik di dalam usus terangsang, merambat ke kolon,dan sisa makanan dari hari kemarinnya, yang waktu malam mencapai sekum mulaibergerak. Isi kolon pelvis masuk ke dalam rektum, serentak peristaltik keras terjadidi dalam kolon dan terjadi perasaan di daerah perineum. Tekanan intra-abdominalbertambah dengan penutupan glottis dan kontraksi diafragma dan otot abdominal,sfinkter anus mengendor dan kerjanya berakhir (Pearce, 2002).
2)      Fisiologi Miksi
Sistem tubuh yang berperan dalam terjadinya proses eliminasi urine adalah ginjal,ureter, kandung kemih, dan uretra. Proses ini terjadi dari dua langkah utama yaitu :Kandung kemih secara progresif terisi sampai tegangan di dindingnya meningkatdiatas nilai ambang, yang kemudian mencetuskan langkah kedua yaitu timbul reflekssaraf yang disebut refleks miksi (refleks berkemih) yang berusaha mengosongkankandung kemih atau jika ini gagal, setidak-tidaknya menimbulkan kesadaran akankeinginan untuk berkemih.
C.     Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasia.
Faktor-faktor yang mempengaruhi defekasi antara lain:
1.      UMUR
Umur tidak hanya mempengaruhi karakteristik feses, tapi juga pengontrolannya.Anak-anak tidak mampu mengontrol eliminasinya sampai sistem neuromuskularberkembang, biasanya antara umur 2 – 3 tahun. Orang dewasa juga mengalamiperubahan pengalaman yang dapat mempengaruhi proses pengosongan lambung. Diantaranya adalah atony (berkurangnya tonus otot yang normal) dari otot-otot poloscolon yang dapat berakibat pada melambatnya peristaltik dan mengerasnya (mengering) feses, dan menurunnya tonus dari otot-otot perut yagn juga menurunkantekanan selama proses pengosongan lambung. Beberapa orang dewasa juga mengalami penurunan kontrol terhadap muskulus spinkter ani yang dapat berdampak pada proses defekasi.
2.      DIET
Makanan adalah faktor utama yang mempengaruhi eliminasi feses. Cukupnyaselulosa, serat pada makanan, penting untuk memperbesar volume feses. Makanantertentu pada beberapa orang sulit atau tidak bisa dicerna. Ketidakmampuan iniberdampak pada gangguan pencernaan, di beberapa bagian jalur dari pengairanfeses. Makan yang teratur mempengaruhi defekasi. Makan yang tidak teratur dapatmengganggu keteraturan pola defekasi. Individu yang makan pada waktu yang samasetiap hari mempunyai suatu keteraturan waktu, respon fisiologi pada pemasukanmakanan dan keteraturan pola aktivitas peristaltik di colon.
3.      CAIRAN
Pemasukan cairan juga mempengaruhi eliminasi feses. Ketika pemasukan cairanyang adekuat ataupun pengeluaran (cth: urine, muntah) yang berlebihan untuk beberapa alasan, tubuh melanjutkan untuk mereabsorbsi air dari chyme ketika ialewat di sepanjang colon. Dampaknya chyme menjadi lebih kering dari normal,menghasilkan feses yang keras. Ditambah lagi berkurangnya pemasukan cairanmemperlambat perjalanan chyme di sepanjang intestinal, sehingga meningkatkanreabsorbsi cairan dari chyme.
4.      TONUS OTOT
Tonus perut, otot pelvik dan diafragma yang baik penting untuk defekasi.Aktivitasnya juga merangsang peristaltik yang memfasilitasi pergerakan chymesepanjang colon. Otot-otot yang lemah sering tidak efektif pada peningkatan tekananintraabdominal selama proses defekasi atau pada pengontrolan defekasi. Otot-ototyang lemah merupakan akibat dari berkurangnya latihan (exercise), imobilitas ataugangguan fungsi syaraf.
5.      FAKTOR PSIKOLOGI
Dapat dilihat bahwa stres dapat mempengaruhi defekasi. Penyakit-penyakit tertentutermasuk diare kronik, seperti ulcus pada collitis, bisa jadi mempunyai komponenpsikologi. Diketahui juga bahwa beberapa orang yagn cemas atau marah dapatmeningkatkan aktivitas peristaltik dan frekuensi diare. Ditambah lagi orang yagndepresi bisa memperlambat motilitas intestinal, yang berdampak pada konstipasi.
6.      GAYA HIDUP
Gaya hidup mempengaruhi eliminasi feses pada beberapa cara. Pelathan buang airbesar pada waktu dini dapat memupuk kebiasaan defekasi pada waktu yang teratur,seperti setiap hari setelah sarapan, atau bisa juga digunakan pada pola defekasi yangireguler. Ketersediaan dari fasilitas toilet, kegelisahan tentang bau, dan kebutuhanakan privacy juga mempengaruhi pola eliminasi feses. Klien yang berbagi saturuangan dengan orang lain pada suatu rumah sakit mungkin tidak inginmenggunakan bedpan karena privacy dan kegelisahan akan baunya.
7.      OBAT-OBATAN 
                  Beberapa obat memiliki efek samping yang dapat berpengeruh terhadap eliminasiyang normal. Beberapa menyebabkan diare; yang lain seperti dosis yang besar daritranquilizer tertentu dan diikuti dengan prosedur pemberian morphin dan codein,menyebabkan konstipasi.Beberapa obat secara langsung mempengaruhi eliminasi.Laxative adalah obat yang merangsang aktivitas usus dan memudahkan eliminasifeses. Obat-obatan ini melunakkan feses, mempermudah defekasi. Obat-obatantertentu seperti dicyclomine hydrochloride (Bentyl), menekan aktivitas peristaltik dan kadang-kadang digunakan untuk mengobati diare.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Batman Begins - Help Select