A.
Pengertian Eliminasi
Menurut kamus
bahasa Indonesia, eliminasi adalah pengeluaran, penghilangan,penyingkiran, penyisihan.Dalam
bidang kesehatan, Eliminasi adalah proses pembuangansisa metabolisme tubuh baik
berupa urin atau bowel (feses).Eliminasi pada manusiadigolongkan menjadi 2
macam, yaitu:
1.
Defekasi
Buang
air besar atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidupuntuk
membuang kotoran atau tinja yang padat atau setengah-padat yang berasaldari
sistem pencernaan (Dianawuri, 2009).
2.
Miksi
Miksi adalah proses pengosongan kandung kemih bila
kandung kemih terisi. Miksi ini sering disebut buang air kecil.
B.
Fisiologi Dalam Eliminasi
1)
Fisiologi Defekasi
Rektum
biasanya kosong sampai menjelang defekasi. Seorang yang mempunyaikebiasaan
teratur akan merasa kebutuhan membung air besar kira-kira pada waktuyang sama
setiap hari. Hal ini disebabkan oleh refleks gastro-kolika yang biasanyabekerja
sesudah makan pagi. Setelah makanan ini mencapai lambung dan setelahpencernaan
dimulai maka peristaltik di dalam usus terangsang, merambat ke kolon,dan sisa
makanan dari hari kemarinnya, yang waktu malam mencapai sekum mulaibergerak.
Isi kolon pelvis masuk ke dalam rektum, serentak peristaltik keras terjadidi
dalam kolon dan terjadi perasaan di daerah perineum. Tekanan
intra-abdominalbertambah dengan penutupan glottis dan kontraksi diafragma dan
otot abdominal,sfinkter anus mengendor dan kerjanya berakhir (Pearce, 2002).
2)
Fisiologi Miksi
Sistem
tubuh yang berperan dalam terjadinya proses eliminasi urine adalah
ginjal,ureter, kandung kemih, dan uretra. Proses ini terjadi dari dua langkah
utama yaitu :Kandung kemih secara progresif terisi sampai tegangan di
dindingnya meningkatdiatas nilai ambang, yang kemudian mencetuskan langkah
kedua yaitu timbul reflekssaraf yang disebut refleks miksi (refleks berkemih)
yang berusaha mengosongkankandung kemih atau jika ini gagal, setidak-tidaknya
menimbulkan kesadaran akankeinginan untuk berkemih.
C.
Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasia.
Faktor-faktor yang mempengaruhi defekasi antara
lain:
1.
UMUR
Umur tidak hanya mempengaruhi karakteristik
feses, tapi juga pengontrolannya.Anak-anak tidak mampu mengontrol eliminasinya
sampai sistem neuromuskularberkembang, biasanya antara umur 2 – 3 tahun. Orang
dewasa juga mengalamiperubahan pengalaman yang dapat mempengaruhi proses
pengosongan lambung. Diantaranya adalah atony (berkurangnya tonus otot yang
normal) dari otot-otot poloscolon yang dapat berakibat pada melambatnya
peristaltik dan mengerasnya (mengering) feses, dan menurunnya tonus dari
otot-otot perut yagn juga menurunkantekanan selama proses pengosongan lambung.
Beberapa orang dewasa juga mengalami penurunan kontrol terhadap muskulus
spinkter ani yang dapat berdampak pada proses defekasi.
2.
DIET
Makanan adalah faktor utama yang mempengaruhi
eliminasi feses. Cukupnyaselulosa, serat pada makanan, penting untuk memperbesar
volume feses. Makanantertentu pada beberapa orang sulit atau tidak bisa
dicerna. Ketidakmampuan iniberdampak pada gangguan pencernaan, di beberapa
bagian jalur dari pengairanfeses. Makan yang teratur mempengaruhi defekasi.
Makan yang tidak teratur dapatmengganggu keteraturan pola defekasi. Individu
yang makan pada waktu yang samasetiap hari mempunyai suatu keteraturan waktu,
respon fisiologi pada pemasukanmakanan dan keteraturan pola aktivitas
peristaltik di colon.
3.
CAIRAN
Pemasukan cairan juga mempengaruhi eliminasi
feses. Ketika pemasukan cairanyang adekuat ataupun pengeluaran (cth: urine,
muntah) yang berlebihan untuk beberapa alasan, tubuh melanjutkan untuk
mereabsorbsi air dari chyme ketika ialewat di sepanjang colon. Dampaknya chyme menjadi
lebih kering dari normal,menghasilkan feses yang keras. Ditambah lagi
berkurangnya pemasukan cairanmemperlambat perjalanan chyme di sepanjang
intestinal, sehingga meningkatkanreabsorbsi cairan dari chyme.
4.
TONUS OTOT
Tonus perut, otot pelvik dan diafragma yang
baik penting untuk defekasi.Aktivitasnya juga merangsang peristaltik yang
memfasilitasi pergerakan chymesepanjang colon. Otot-otot yang lemah sering
tidak efektif pada peningkatan tekananintraabdominal selama proses defekasi
atau pada pengontrolan defekasi. Otot-ototyang lemah merupakan akibat dari
berkurangnya latihan (exercise), imobilitas ataugangguan fungsi syaraf.
5.
FAKTOR PSIKOLOGI
Dapat dilihat bahwa stres dapat mempengaruhi
defekasi. Penyakit-penyakit tertentutermasuk diare kronik, seperti ulcus pada
collitis, bisa jadi mempunyai komponenpsikologi. Diketahui juga bahwa beberapa
orang yagn cemas atau marah dapatmeningkatkan aktivitas peristaltik dan
frekuensi diare. Ditambah lagi orang yagndepresi bisa memperlambat motilitas
intestinal, yang berdampak pada konstipasi.
6.
GAYA HIDUP
Gaya hidup mempengaruhi eliminasi feses pada
beberapa cara. Pelathan buang airbesar pada waktu dini dapat memupuk kebiasaan
defekasi pada waktu yang teratur,seperti setiap hari setelah sarapan, atau bisa
juga digunakan pada pola defekasi yangireguler. Ketersediaan dari fasilitas
toilet, kegelisahan tentang bau, dan kebutuhanakan privacy juga mempengaruhi
pola eliminasi feses. Klien yang berbagi saturuangan dengan orang lain pada
suatu rumah sakit mungkin tidak inginmenggunakan bedpan karena privacy dan
kegelisahan akan baunya.
7.
OBAT-OBATAN
Beberapa obat
memiliki efek samping yang dapat berpengeruh terhadap eliminasiyang normal.
Beberapa menyebabkan diare; yang lain seperti dosis yang besar daritranquilizer
tertentu dan diikuti dengan prosedur pemberian morphin dan codein,menyebabkan
konstipasi.Beberapa obat secara langsung mempengaruhi eliminasi.Laxative adalah
obat yang merangsang aktivitas usus dan memudahkan eliminasifeses. Obat-obatan
ini melunakkan feses, mempermudah defekasi. Obat-obatantertentu seperti
dicyclomine hydrochloride (Bentyl), menekan aktivitas peristaltik dan
kadang-kadang digunakan untuk mengobati diare.

0 komentar:
Posting Komentar