Benda cair
Tubuh memiliki zat air yang menempati porsi terbesar
diperkirakan sekitar 50-60 persen tubuh orang dewasa terdiri atas air.
Maka tak heran jika hampir semua reaksi di dalam tubuh manusia
memerlukan cairan. Adapun ciri2 benda cair:
⦁ Molekul terikat secara longgar tapi berdekatan
⦁ Tekanan yang terjadi karena gaya grafitasi
⦁ Tekanan terjadi tegak lurus bidang
Benda cair dalam tubuh manusia
⦁ Dalam pembuluh darah
⦁ Dalam bola mata
⦁ Pada ibu hamil: dalam uterus
⦁ Cairan amnion
Alat ukur tekanan zat cair
⦁ Tonometer
Untuk mengukur tekanan intra okuler
penderita glaukoma
2. Sistometer
Untuk mengukur tekanan kandung kencing.
Cairan tubuh
⦁ Seluruh sel-sel tubuh terendam dalam suatu cairan yang disebut
cairan interstitiel yang bertindak sebagai lingkungan interna dari
sel-sel.
⦁ Volume dan komposisi cairan interstitiel harus tetap
berada dalam suatu batas yang tertentu agar sel-sel dapat berfungsi
dengan normal.
⦁ Perubahan dari volume dan komposisi cairan interstitiel dapat menimbulkan kelainan fungsi tubuh (malfungsi).
⦁ Kelainan volume cairan akan mengganggu fungsi kardiovaskuler
sedangkan perubahan komposisi cairan interstitiel akan mengganggu fungsi
sel.
⦁ Jadi jelas bahwa harus terdapat suatu regulasi aktif untuk mempertahankan lingkungan dalam agar tetap konstan.
⦁ Cairan tubuh total : 60% dari BB
⦁ Cairan tubuh total : cairan intrasel 40% BB dan cairan ekstrasel 20% BB
⦁ Cairan ekstrasel :
- plasma darah 5% BB
- cairan interstitiel 15% BB
- cairan transelluler 1,5% BB
⦁ Cairan tubuh total dipengaruhi oleh : umur, jenis kelamin, dan derajat obesitas
Fungsi cairan tubuh
⦁ Pembentuk struktur tubuh
⦁ Sarana transportasi (nutrisi, hormon, dan molekul2 kedlm sel)
⦁ Membantu mengeluarkan sisa2 metabolisme
⦁ Mengatur suhu
⦁ Pelarut elektrolit dan non elektrolit
⦁ Mengisi rongga2 tubuh (cairan pluera, spinal, perikardium, peritoneal)
Lanjutan………………………
⦁ Hal ini menyebabkan kapiler cenderung mendorong cairan melalui
porus yang terdapat pada dinding kapiler keruang interstitiel
⦁
Sebaliknya, tekanan osmotik plasma yang disebabkan oleh protein plasma
yang disebut tekanan koloid osmotik plasma yang disebut juga tekanan
onkotik cenderung mendorong cairan bergerak secara osmosis dari ruang
interstitiel ke plasma, sehingga mencegah hilangnya cairan dari plasma
ke ruang interstitiel.
Transport Cairan
⦁ Sistem
cardiovaskuler berfungsi untuk mensuplai berbagai bahan yang penting
melalui darah ke seluruh tubuh. Plasma merupakan bagian non seluler dari
darah, plasma berhubungan dengan cairan interstitiel melalui lubang
yang terdapat pada kapiler.
b . Terdapat perbedaan tekanan
sebesar 20Mmhg antara plasma dan cairan interstitiel yang menyebabkan
tekanan hidrostatik kapiler lebih tinggi dibandingkan di dalam ruang
interstitial
Cairan tubuh terdiri dari :
Cairan Ekstrasel :
semua cairan yang terdapat diluar sel dan terdiri dari ion-ion dan
berbagai bahan nutrisi yang dibutuhkan oleh sel untuk mempertahankan
fungsi sel spt pertumbuhan, perkembangan dan fungsi khusus lainnya.
Cairan ekstrasel terdiri atas beberapa komponen : plasma, cairan interstitial dan cairan transeluler.
⦁ Plasma : merupakan bagian non seluler dari darah dan menyusun 24%
dari seluruh cairan ekstrasel. Plasma berhubungan dengan cairan intrasel
melalui lubang yang terdapat pada kapiler.
⦁ Cairan interstitial
: merupakan cairan yang terdapat diantara sel, termasuk didalamnya
adalah cairan limpa. Cairan interstitial merupakan 75% dari cairan
ekstrasel
⦁ Cairan transeluler : merupakan cairan yang terdapat
pada lumen saluran cerna, keringat, cairan cerebrospinal, cairan pleura,
cairan pericardial, cairan intraokuler, sinovial, empedu, peritonium
dan cairan kokhlea. Berjumlah 1 % dari cairan ekstrasel
⦁ Cairan
intrasel : sekitar 25 liter dari 40 liter cairan dalam tubuh kita
terdapat dalam 100 triliun sel, disebut cairan intrasel yang meliputi
2/3 dari seluruh cairan tubuh. Cairan intrasel yang terdapat pada tiap
sel mempunyai komposisi yang berbeda tetapi konsentrasi dari tiap
komposisi dapat dikatakan sama dari sel ke sel lainnya.
Pengaturan normal keseimbangan Cairan dlm tubuh
⦁ Ketentuan volume cairan
Intake=Output
⦁ Intake cairan normal
orang dewasa sehat memasukkan cairan normal 90% dr intake/hr (±2500 cc).
⦁ Output cairan normal
⦁ Balance cairan dipertahankan krn : paru2, saluran cerna, ginjal.
Lanjutan……………………….
⦁ IWL (insessible Water Loss) ad/ hilangnya cairan yg tdk dapat dilihat (evaporasi n respirasi).
⦁ Dewasa : 8-10 cc/kgBB/24 jam
⦁ Anak : 30 cc/kgBB/24 jam
⦁ Dengan suhu : 10 cc/kgBB ⁺ 200 cc (st-36,8° C)
⦁ Sensibel water loss ad/ hilangnya cairan yang dapat diamati
⦁ Urine : 1-2 cc/kg BB/jam
⦁ Faeces : 100-200 cc/24 jam
⦁ Output urine setiap hr hampir sama dgn intake balance cairan
individu dpt diperkirakan dgn membandingkan intake cairan oral dan
output urine.
SUHU SUHU
LATIHAN
BERAT
NORMAL PANAS DAN LAMA
(ml/hari) (ml/hari)
(ml/hari)
Insensible Water Loss :
-kulit 350 350 350
-Pernapasan 350 250 650
Non Insensible Water Loss :
-urine 1400 1200 500
-keringat 100 1400 5000
-tinja 100 100 100
total 2300 3300 6600
Pertukaran cairan tubuh
⦁ Difusi : proses pertukaran cairan dari cairan berkonsentrasi tinggi ke cairan berkonsentrasi rendah
⦁ Osmosis : proses pertukaran cairan dari cairan berkonsentrasi
rendah ke cairan berkonsentrasi tinggi melalui membran semipermiabel
⦁ Transpor Aktif : Proses perpindahan cairan tubuh dapat menggunakan
mekanisme transpor aktif. Transpor aktif merupakan gerak zat yang akan
berdifusi dan berosmosis. Proses penting untuk mempertahankan natrium
dalam cairan intra dan ekstrasel
Penyebab Dehidrasi
A. Hilangnya cairan melalui sal. cerna
- muntah - Peritonitis
- diare
- obstruksi usus
B. Hilangnya cairan melalui ginjal
- Insufisiensi adrenal - Diabetes insipidus
- Diuresis osmotik - Diuresis berlebihan
C. Hilangnya cairan melalui kulit dan sal. Napas
- Keringat berlebihan - Keganasan paru
- Luka bakar
Jenis Dehidrasi
⦁ Dehidrasi isoosmotik (Dehidrasi Isotonik C=E) : diare, muntah, eksudasi plasma pada luka bakar
⦁ Dehidrasi hiperosmotik (Dehidrasi hipertonik C>E) : intake air
kurang, diabetes insipidus, demam, evaporasi kulit berlebihan
⦁ Dehidrasi hipoosmotik (Dehidrasi hipovolemik E>C) : hilangnya Nacl pada insupisiensi adrenal
Penyebab Udema
Meningkatnya tekanan kapiler
A. Meningkatnya tekanan vena : gagal
jantung, obstruksi vena lokal, gagalnya
pompa vena.
B. Retensi Na dan air : gagal ginjal
C. Menurunnya resistensi arteriole : demam, paralisis saraf
simpatis, efek obat vasodilator
Menurunnya tekanan koloid plasma
A. Kehilangan protein lewat urine : Sindroma Nefrotik
B. Kehilangan protein lewat kulit : Luka, luka bakar
C. Kegagalan produksi protein : peny. hati, KKP
Lanjutan……………….
Meningkatnya permeabilitas kapiler
A. Reaksi imun yang menyebabkan pelepasan
histamin
B. Toksin
C. Infeksi bakteri
D. Defisiensi vitamin, utamanya vit.C
E. Iskemia
F. Luka bakar
Obstruksi saluran limfe
A. Kanker yang menyumbat sal. Limfe
B. Sumbatan kelenjar limfe oleh infeksi; filariasis
C. Kelainan kongenital dari pembuluh limfe
Gas dalam tubuh
⦁ Gas tidak memiliki bentuk/volume yang tetap dan mengisi semua ruang yang ada.
⦁ Partikel-partikel dalam gas bebas bergerak dalam ruang dan saling bertumpukan satu sama lain.
⦁ Tumpukan antara partikel2 gas dgn dinding wabah akan menyebabkan tekanan
Semakin banyak jumlah tumbukan maka semakin banyak tekanan yg terjadi
Kapasitas paru
Kapasitas paru diukur dengan spirometer
Kapasitas paru laki 5 liter dan wanita 4 liter
⦁ Volume tidal sekitar 450 ml udara yang keluar masuk paru slm pernapasan
⦁ Volume cadangan inspirasi, jumlah udara ekstra yag dapat dihirup di atas volume tidal saat menarik napas dalam2.
⦁ Volume cadangan ekspirasi, jumlah udara ekstra yg dapat dikeluarkan selain volume tidal saat menghembuskan napas
⦁ Volume residu, udara yang tersisa dlm paru setelah ekspirasi yg
paling kuat. Meningkat pada penyakit saluran napas obstruktif
⦁ Kapasitas total paru, jumlah kapasitas vital dan volume residu.
Transportasi gas (perfusi
Ad / proses perpindahan gas dr paru ke jaringan dan dr jaringan ke peru dgn bantuan aliran darah.
oksigen kapiler jaringan tubuh
karbondioksida jar. Tbh kapiler
Trasportasi gas oksigen
⦁ Berikatan dgn Hb (Oxyhemoglobin 97%)
⦁ Larut dlm plasma (3%)
Transport karbondioksida
⦁ Larut dlm plasma
⦁ Berikatan Hb (Carbaminohemoglobine 30%
⦁ Sebagai HCO3
Faktor2 yg mempengaruhi Oksigenasi
⦁ Kondisi kesehatan (Ggn organ vital n penykt kronis)
⦁ Perkembangan (Perubhn fisik slm tmbuh kembang)
⦁ Narkotik n Analgesik (mengakibtkan Depresi pusat napas trtma Morphin n mereridin)
⦁ Pola / gaya hidup (pola aktivitas yg tdk mendukung perkembangan alveoli. Misal merokok, krg olaraga
⦁ Environment (panas, dingin, altitute n polusi udara)
⦁ Latihan
⦁ Kondisi psikologi (emosi, cemas, marah)
Tujuan Terapi oksigen
Meningkatkan kadar oksigen udara napas kadar oksigen yang ada di
paru-paru menjadi tinggi tekanan pastial oksigen dialveolus meningkat
oksigen yang berdifusi melalui dinding alveolus lebih banyak kadar
oksigen yang terangkut melalui peredaran darah cukup dan persediaan
oksigen di jaringan sel dapat terpenuhi mencegah terjadinya hipoksia.
Efek langsung dari pemberian fraksi oksigen inspirasi ( FIO2 )
⦁ Mengatasi hipoksemia dengan peningkatan tekanan oksigen alveoli
⦁ Menurunkan usaha pernafasan untuk mempertahankan tekanan oksigen alveoli
⦁ Menurunkan kerja jantung untuk mempertahankan tekanan oksigen arteri
Sumber oksigen
⦁ Oksigen tangki adalah gas kering yang harus bebas debu dan partikel minyak agar dapat digunakan dalam terapi medik.
⦁ Dari regulator oksigen dapat digunakan untuk menjalankan ventilator, nebulizer, humidifer dan flowmeter.
⦁ Dari flowmeter baru boleh diberikan ke alat terapi oksigen (kanula, masker, bag).
Cara pemberian Oksigen
⦁ Kanula hidung
⦁ Sungkup sederhana
⦁ Sungkup dengan reservoir rebreathing
⦁ Sungkup dengan reservoir non rebreathing
⦁ Sungkup venturi
Bahaya-bahaya pemberian O2
a. Kebakaran
Oksigen bukan zat pembakar tetapi oksigen dapat memudahkan terjadinya kebakaran
b. Depresi ventilasi
Pemberian O2 yang tidak dimonitor baik konsentrasi maupun aliran pada pasien dgn retensi CO2 dapat menekan ventilasi
c. Keracunan Oksigen
Dapat terjadi bila terapi oksigen yg diberikan dgn konsentrasi tinggi dalam waktu relatif lama
Keadaan ini dpt merusak jaringan paru dan kerusakan surfaktan
Sabtu, 25 Oktober 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar